Surakarta – Universitas Muhammadiyah Surakarta (UMS) pada tanggal 12 Agustus 2025 bertempat di Edutorium Kh. Ahmad Dahlan menggelar acara pembekalan penjaminan mutu yang dihadiri oleh pimpinan universitas, fakultas, serta unit kerja terkait. Kegiatan ini menjadi momentum penting untuk menyamakan persepsi dan menyusun strategi dalam mewujudkan budaya mutu yang lebih terintegrasi.
Sambutan Kepala BPP: Pelopor Penjaminan Mutu
Kepala Badan Perencanaan dan Pengembangan (BPP), Munajat Tri Nugroho, Ph.D, menegaskan bahwa tujuan utama kegiatan ini adalah menyatukan arah kerja agar setiap pihak dapat menjalankan tugas sesuai kesepakatan bersama.
“Untuk milestone 2025–2029, prinsipnya kita akan melanjutkan transformasi progresif yang sudah dilakukan. Kita harus tidak hanya sekadar bereputasi, tetapi menjadi pelopor perubahan dalam penjaminan mutu. Pelopor ini mencakup dosen, pejabat, mahasiswa, hingga lulusan,” ujarnya.
Munajat juga menyoroti bahwa budaya organisasi di UMS masih berada di tingkat unit atau fakultas, sehingga perlu ditingkatkan ke level universitas agar lebih kuat dan berdaya saing.
Sambutan Wakil Rektor II: Mutu Harus Terus Meningkat
Wakil Rektor II UMS, Prof. Dr. M. Dai, dalam sambutannya menyampaikan prinsip penjaminan mutu sebagai continuous quality improvement.
“Mutu itu tidak boleh berhenti, harus terus meningkat dari waktu ke waktu. Kita harus memiliki standar mutu yang strategis dan kompetitif agar UMS mendapat pengakuan luas di masyarakat,” jelasnya.
Ia juga menekankan pentingnya akuntabilitas mutu, baik secara internal maupun eksternal, sebagai bentuk pertanggungjawaban universitas terhadap komitmen yang sudah ditetapkan.
Materi Inti: Strategi Penjaminan Mutu
Pembekalan utama disampaikan oleh Kepala Badan Penjaminan Mutu (BPM), Hari Prasetyo, Ph.D. Ia menekankan pentingnya penyamaan persepsi mengenai tugas pokok dan fungsi (tupoksi) dalam penjaminan mutu.
Menurutnya, mutu adalah pemenuhan ekspektasi pelanggan (customer), yang dalam konteks pendidikan berarti mahasiswa, alumni, serta pemangku kepentingan lainnya. “Mutu itu tingkat kesesuaian antara pelaksanaan dengan standar. Standar inilah yang menjadi dasar monitoring, evaluasi, dan pengembangan,” tegasnya.
Hari juga memaparkan empat siklus penjaminan mutu: quality planning, quality control, quality assurance, dan quality improvement. Selain itu, ia mengingatkan pentingnya kemampuan menyusun dokumen mutu di level fakultas, mengingat setiap rumpun LAM (Lembaga Akreditasi Mandiri) kini memiliki aturan berbeda.
“PR pertama Bapak-Ibu adalah menyusun standar mutu masing-masing fakultas. Ini menjadi tantangan sekaligus peluang dalam desentralisasi peran penjaminan mutu,” jelasnya.
Menuju Reputasi Internasional
Dalam era global, Bp. Hari menegaskan perlunya menangkap customer voice dari lembaga akreditasi internasional. Standar yang diharapkan harus diterjemahkan dalam praktik nyata, dievaluasi, dan terus diperbarui.
Ia juga menekankan relevansi sebagai poin penting, bukan sekadar mengejar jumlah mahasiswa baru, tetapi memastikan dampak yang nyata bagi masyarakat dan dunia kerja.
Moto Penjaminan Mutu UMS
Di akhir sesi, ditegaskan kembali moto penjaminan mutu UMS:
“Working Excellence, Advancing Quality – Menjaga Mutu, Menggerakkan Perubahan.”